Perawan Tua

Kalimat judul sederhana yg kupilih, berani, aku tak menemukan kata kiasan lain yg bisa kugunakan.

Beberapa hari ini aku terusik memang untuk membahas dan mengupas tentang tema ini;
mulai dari share iklan SK II topik perawan tua dr sisi positif
Lalu share kutipan tulisan tere liye tentang JOMBLO
Lalu share Mario Teguh yg bilang perempuan itu aneh

Selain itu, karena aku sendiri sekarang berusia 31 tahun 7,5 bulan (menjelang 32 Tahun), yes im single!

Klo aku tidak bekerja merantau dikota Jakarta atau sekarang aku di Denpasar, pasti dah sampai ke kupingku omongan tetanggaku, saudaraku, mengamini bahwa aku termasuk golongan perawan tua.

atau mungkin sebagian dr kalian yg berasal dr sudut pedesaan atau setara generasi orang tua kita dulu, aku sudah masuk dalam kelompok perawan tua.

Jadi ijinkan aku menuliskan apa yg ada dari sudut pandangku sebagai pelaku perawan tua, sebutlah begitu jika kalian mau.

Bertemu seorang psikolog, dalam waktu 3 hari, dia mengamati dan menganalisa diriku. Pada hari terakhir bertemu dia menyarankan padaku agar aku menentukan target menikah.
Terharu menemukan orang yg baru kita kenal, tapi dia seolah mampu dan bisa memahami kita dari sisi yg kita sembunyikan, bahkan dari sisi yg kita sendiri terkadang tidak menyadarinya.

Siapa yg tidak ingin menikah? Setiap perempuan ingin menikah. Mendambakan memiliki keluarga.
Keluarga yg seperti apa, sosok imam seperti apa, kami punya impiannya, sama dengan kalian.
Ketika sosok yg kami inginkan itu belum jiga datang, lalu?

Terlalu memilih, yaaah harus dipilih, tegas sebagian kami menjawab demikian.
Apakah kalian yg nyinyir itu akan menjadi penopang hidupku nanti ketika pilihanku salah? Biarkan kami menyiapkan mitiga resikonya, dan menentukan pilihan.

Kami tidak pernah sombong, merendahkan orang lain ataupun menutup diri. Kami hanya butuh orang yg lebih bisa menaklukkan kami yg tangguh, dan dominan. Seperti apa, silahkan dicocokan dengan semua ilmu psikologi dan kesehatan yg ada, mungkin akan muncul kriteria yg ideal.
Tapi yg terpenting bukan kriteria, tapi urusan rasa, klo tak ada rasa untuk apa.

Berkeluarga itu untuk mencapai visi bersama, bahkan ilmu manajemen sekrang berbicara tentang touch, tentang engagement, awalnya dr trust is rasa.

Ayah, ibu maafkan anakmu, yang mungkin membuatmu malu, ketika ketemu teman-teman, tetangga, keluarga yg selalu menanyakan anakmu ini. Jawaban default yg kalian punya, “belum waktunya, doakan saja”

Terima kasih kalian adalah orang tua terbaik yg sangat tau kondisi anaknya, tid pernah memaksakan atau bertanya kapan? Karena kalian yg sesungguhnya tau apa yg sedamg dialami dan dirasakan oleh kami. Selalu mendukung dan mendoakan yg terbaik untuk kami

Mereka yang nyinyir tanpa solusi itu tidak pernah tau, betapa sakitnya rasa kecewa, bagaiman menyatukan retakan hati yg pernah patah, bagaimana berusaha melupakan, agar siap dan indah kembali menerima rasa yg baru

Terima kasih untuk kalian yg begitu perhatian kepada kami, tapi STOP menilai kebahagian adalah dr ukuran kalian.
Setiap orang punya jalannya masing, lebih positif kalian mendoakan, atau langsung bertindak dengan memberikan nama atau nomor telp, mengajak bergabung komunitas, mengenalkan dengan kerabat, sehingga menambah referensi pertemanan kami.

Jangan sampai puasa atau lebaran kali ini membuat kami malas pulang kampung, karena tak tega melihat ayah ibu lelah menjawab pertanyaan nggak solusi itu.

Sejauh ini, bully-an dan bercandaan dr teman-teman sudah menjadi imun, kebal, asal jangan sampai bebal.

Fitrahnya manusia butuh berbagi, termasuk celotehan ini. Semoga ada nilai positif yg bisa diambil pelajaran, jikapun tidak yaa silahkan dilupakan.

Maaf saya menggunakan kata kami, sebagai bentuk cara mencari dukungan atas rasa atau pemikiran yg sama. Klopun tak ada, ya sudahlah nasib saya saja berarti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s