diary untuk Rana

Lebih Setahun lalu,

Rana  aku memanggilmu,  sebelumnya selalu kusebut kamu

saat pertama melihatmu, sebelum benar-benar mengenalmu, tapi Google bisa memberitauku tentang profilmu

kagum, mungkin.  ada dua hal yang ada pada dirimu yang membuatku tertarik

tak pernah kuceritakan padamu apa itu, tak perlu menurutku, hanya membuatku malu, dan kau akan semakin Ge eR

detik berjalan, menit terlewati, jam berlalu, hari berganti dan bulan berubah

semua bercerita, mengkuti takdirNya

 

Dua minggu lalu,

Rana, malam itu bintang masih malu-malu, saat kita memandangi mereka

duduk dipinggiran “seggara”

menikmati hembusan angin malam pantai, dibawah pohon kelapa rindang (tidak memikirkan ada buahnya apa tidak?!) terbawa suasana

mestinya akan lebih romantis lucu, jika kisahnya kita kejatuhan buah kelapa

aku suka suasana ini, duduk disampingmu,

bercerita, mendengarkan alunan musik, ikut bernyanyi dan menghayati lirik, sampai berkomentar bahwa kisahnya sama dengan kisah kita

aahaa lagu yang pernah kunyanyikan untukmu  kita dengar disana “mau dibawa kemana” dan kitapun tertawa bersama

sampai bintang kemudian muncul, menampakkan sinarnya, waktunya harus pulang karena hari telah berganti

berjalan mengejar taxi (padahal bisa aja order by aplikasi atau phone), sambil bergandengan tangan, didalam kesepian jalanan,  lumayan sekitar 4 km (olah raga dini hari)

seperti anak muda yang kita temui didepan kita, kita pun merasa muda seperti mereka

menikmati waktu, hanya itu yang kita lalukan, meski tau kita akan berpisah

hampir tiba dipenghujung jalan, kamu bilang

“aku ingin mengatakan sesuatu padamu” dengan nada berat sok serius seperti difilm, diam sejenak

aku hanya memandangmu heran

“aku lapar” dan kitapun tertawa bersama

 

Dua bulan lalu,

Rana, matahari masih malu-malu bangun dari istirahatnya

seorang pria disebelahku bercerita tentang dirinya, perasaannya dan hatinya

Aku duduk terdiam, mendengar dan menatapnya bicara tak jelas, tapi tersirat

aku mencerna, mengerti dan mengatakan apa yang aku rasakan

lalu, hatipun bicara

dia menggapai tanganku, menciumnya penuh sayang

matanya sedikit basah, dia  memelukku dengan erat dan dalam

aku terdiam dalam dekapannya, bahkan tak mampu membalas pelukannya

sesaat setelah itu dia mencium  keningku

Rana, lelaki pertama yang memelukku dengan erat, menggenggam dan mencium tangan dan keningku.

Rana, kau tau, kau kekasih pertamaku

menempatkanmu dalam sisi hidupku,

aku pun menempatkan hatiku disisimu, dengan segala konsekuensinya

Aku sadar, ini tak mudah, untuk lelaki yang luar biasa ini aku coba untuk melangkah

Aku memilih, berharap semoga keyakinan dan kemudahan mengiringi perjalanan kita (*berdoa)

 

Rana, #Satu Hari

kita sholat berjamaah, seusai sholat tak segera beranjak, aku masih duduk disampingmu

lama kamu mengusap punggungku, dengan mata terpejam, aku memandangmu

“sambil mendoakan yaa”, tanyaku

“iya” jawabmu dan  melanjutkan doamu dalam diam, masih sambil mengusap punggungku

Rasa sayang itu mengalir hangat dalam tubuhku. Aku hanya diam disampingmu, sambil terus memandangimu. sampai doamu selesai.

aku bertanya “doanya apa?”

“semoga kamu dianugrahi jodoh terbaik, jika aku yang terbaik dan kamu yang terbaik, semoga, amiin”  sambil mengecup keningku

kita masih duduk diatas sajadah kita masing-masing, bersandar disisi tempat tidur, kurebahkan kepalaku, kubiarkan dirimu mengusap kepalaku, lalu kau berkata “aku akan menjagamu”

dan kamupun berpamitan untuk pulang, dan sebelum pergi satu pelukan sayang untukku.

 

Rana, #Lima Hari

saat kamu pulang dan jauh adalah saat menyiksa buatku. karena saat pulangmu, cinta masalalumu ada disana

saat semua rasa cemburu berkumpul, rasa takut kehilangan berseliweran, ternyata cara yang paling ampuh adalah berdoa. Peluk jauh dalam doaku untukmu, malam ini.

“bagiku bersamanya begitu indah, cintanya begitu hangat, pelukannya begitu menenangkan, suara bacaannya sebagai imam sholatku begiu merdu.

jika untuk menjadi istrinya, diperlukan keluasan dan keikhlasan hati, maka lapangkanlah hatiku untuk memiliki cinta yang besar

pantaskan dan mampukan aku menjadi pendamping terbaik baginya, hingga mendapatkan surga dari ridhonya

pantaskan dan mampukan aku mnjadi ibu terbaik bagi anak-anak kami kelak

pantaskan dan mampukan aku menjadi anak sekaligus menantu terbaik untuk orang tua kami

Ya Alloh, Yang Maha membolak balikkan hati, yakinkan hatiku dan hatinya, segerakan dan mudahkanlah

Yang Maha tau yang terbaik untuk hambanya, jika aku tak pantas memilikinya dan membahagiakannya.

ikhlaskan hatiku, hapuskan  rasa cintaku yang ada ini secara perlahan agar aku tak merasakan sakitnya.”

kukirimkan tulisan doa itu kepadamu “amiin, doamu indah sekali sayang” balasmu, mengantarkanku tidur lelap malam ini.

 

Rana, #Empat belas hari

Akhirnya kamu mendapatkannya, aku menyerah! ciuman pertama dibibir itu akhirnya kurelakan untukmu dan berbalas.

 

Rana, #Enam belas hari

“the moment I saw You Cry” [awalk to remember]

aku bertanya tentang kita, dan kaupun masih belum mampu menjawabnya, namun kau sampaikan padaku tentang cinta masalalumu bahwa hatimu sepertinya mulai yakin memilih untuk kembali padanya.

airmataku tumpah, dirimu tak mampu berkata apa-apa, hanya mengusap punggungku

aku tau kamu mesti bingung harus berbuat apa, karena sesungguhnya lelaki tidak tahan melihat perempuan menangis.

sampai aku merasa lelah, akupun tertidur lelap.

 

Rana, #Tujuh belas Hari

esok harinya, kita berpelukan, dan aku masih memilih untuk meneruskan bersamamu, berjuang, bersaing dengan masalalumu, menunggumu sampai keputusan itu benar-benar datang.

seharusnya aku nggak akan menangis untukmu lagi, karena aku yang telah memilih, dan tau dengan segala konsekuensinya.

“I’m Fighting for You”

karena aku Mencintaimu, dan masih berharap impianku masih bisa terwujud “hanya ada satu kekasih”

Aku berharap kekasih pertamaku, menjadi kekasih terkahirku, kamu, Rana.

Hari ini aku akan pergi, berada diseberang, terpisah laut jawa, dan membiarkanmu disini, bersama masalalumu.

Satu ciuman kejutan dipipi saat aku berpamitan, berharap mampu bertahan selama sepuluh hari, membuatmu tak melupakanku.

 

Rana, #Dua Puluh Satu hari

kangen yang menumpuk, kamu tau, bohong saat aku bilang aku nggak akan menangis untukmu lagi

setiap hari sebelum tidur, pikiranku menyiksaku dengan rasa kehilanganmu, bayanganmu yang kembali pada cinta masalalumu

malam ini baru kamu punya waktu untukku, akhirnya, kita bisa bicara meski lewat telp tengah malam.

aku memilih diam, untuk mendengarkan ceritamu, sampai pada pertanyaan

“kamu gimana?” lalu dengan bodohnya kamu menjawab sendiri “tegantung aku yaa?”

telppun bearkhir, diakhiri kiriman fotomu menjelang tidur via whatapp, serta kecupan kangen lewat tulisan.

sekali lagi, aku bohong, malam itu aku masih menangis untukkmu.

 

Rana, #Dua Puluh Tiga hari

ulang tahunku, akhirnya aku punya ucapan spesial yang aku tunggu, yaa dari Rana:

” selamat ulang tahun yaa..

semoga dibari umur panjang yang barokah dan selalu dalam lindungan Allah SWT… aamiin.

Peluk dan Sun sayang dari jauh…

(hug) (kiss)..

Rana”

sedikit legaaa, karena kamu masih ingat aku disela-sela persainganku dengan cinta masalalumu.

 

Rana, #Dua Puluh Delapan hari

akhirnya kita bertemuuu, aku akhirnya pulang

ternyata kita masih saling rindu, sayang , cukup dari pelukan eratmu aku tau itu

sejenak mari kita lupakan masalah  akhir cerita kita yang belum selesai, lupakan keputusanmu, lupakan cinta masalalumu, lupakan sedihmu

hanya pelukan sayang dan rindu, kita nikmati itu dulu saja

 

Sebulan yang lalu, 

Rana, malam ini makan malam pertama kita

sepeulangnya, aku mengirimkan ucapan dengan foto berdua kita menjadi latarnya

“cerita ini sebulan lalu, saat kita saling bicara dan memilih untuk mencoba

malam ini,satu bulan berlalu, aku berdoa semoga takdir harapku menuntun cerita kita selalu indah

Luvrana”

dan pesan ini tak berbalas darimu, entah kemana dirimu

tragis saat sebulan cerita yang kita jalin, saat yang sama aku merasakan akan kehilanganmu.

 

Rana, #Tiga Puluh Tiga hari

dua hari sempurna kita tak saling sapa dan bicara, sejak ucapan itu kukirimkan padamu. sore ini aku bicara pada hatiku sendiri

“Rana, sore ini disini hujan deras banget disertai geluduk

Aku masih berdoa, semoga cinta kita berakhir bahagia.

mungkin sore ini langit tau  ada hati yang gundah, hati yang diam, hati yang berharap, hati yang kuat untuk mencintaimu.”

dan ternyata aku masih menangis untukmu

 

Rana, #Tiga Puluh Empat hari

aku diam, aku marah, aku tau kamu rasa itu. aku tak menghubungimu sama sekali, sampai akhirya kamu yang bertanya padaku terlebih dulu.

lalu, aku meminta waktumu, aku ingin bicara tentang kita

tentang apa yang terjadi tiga hari lalu

 

Rana, #Tiga Puluh Enam hari

akhirnya kita punya waktu, aku yang meminta waktu untuk bisa bicara, tak mampu mengungkapkan apa-apa

mendadak aku hanya diam, aku  hanya ingin memandangi wajahmu. mendekat dan merebahkan kepalaku dilenganmu

” kemana kamu, kenapa kamu nggak membalas ucapanku setelah makan malam itu?”

“aku nggak tau harus bilang apa, aku takut membuatmu semakin berharap” kamu menjawab, tapi tanpa memandang wajahku

“kamu sudah memilih kembali pada cinta masalalumu? kapan waktunya?” akupun tak mampu menatap wajahnya, sambil makin membenamkan kepalaku didadanya

“iya, aku sudah yakin dan mengambil keputusan”

“lalu kamu ingin aku pergi sekarang?”

“terserah kamu, jika kamu ingin pergi sekarang. tapi sampai saat itu tiba aku, hatiku masih ada ruang untukmu, jika kamu masih membutuhkannya”

sejenak dadaku sesak, tak tertahankan air mataku jatuh, namun tidak seperti waktu itu, karena hatiku sudah menjadi lebih kuat dari sebelumnya, hanya  air mata kejutan yang belum bisa menerima kenyataan.

setelah selesai bicara, tak punya lagi kata-kata, kita mendengarkan “thousand years – boyce avenue” versi akustik, masih saling berpelukan dan bernyanyi bersama.

“How to be brave, how can I love when Im afraid to Fall”

kami memutuskan menghabiskan rasa sayang kami disisa waktu yang entah belum tau sampai kapan, entahlah sebenarnya kamu memang masih ragu dan berfikir atau kamu hanya menunda untuk memberitahukan ku, menunda tangisku.

 

Rana, #Empat Puluh Dua hari

kamu bilang padaku kemaren,  hari ini,  kamu sedang mengurus semuanya, buatku  seperti genggaman tangan kita yang sudah samai pada ujung jari, waktunya melepaskan

Hari ini aku benci dengan masalalu, karena ia telah memaksaku melepaskanmu. Tapi esok, aku akan suka dengan masalalu, karena ia membuatku dapat mengenangmu”

hari ini aku memakai baju hitam , sengaja karena hari ini adalah hari berkabung menjelang kematian cinta kita.

satu hal yang kamu nggak tau, aku menangis lagi sore hari kemaren, saat kamu pamit pergi menemui cinta masalalumu.

malam ini, kita bicara, aku sudah siap dengan apa yang ingin kamu katakan, waktu akhir cerita kita

kamu tunjukkan padaku video peri kecilmu yang sedang bermain sepeda dengan riangnya. aku merebahkan kepalaku dilenganmu, sambil tersenyum,

“coba lihat, aku nggak akan bisa kehilangan senyumannya”

“saat ini, ini adalah keputusan yang terbaik”

“mudah bagiku jika egois untuk memilih bersamamu”

kamu memulai berbicara, dan aku masih sambil menonton video itu.

“iya aku mengerti, ketika awal memulai, aku sudah memilih dengan segala konsekuensinya”

“jadi kapan waktunya?” aku bertanya sambil menatab wjahmu dari samping

“07 September 2014” kamu menjawab, lalu menoleh kearahku dan mengecup kelopak mataku

aku tau saat itu, kamu tidak ingin melihatku menangis.

malam ini  menjadi malam pelukan terkahir buat kita, setelah ini biarlah perlahan-lahan kita mencoba melupakan sayang kita.

satu inginku, ingin sekali lagi makan malam bersamamu.

 

Rana, #Empat puluh Tiga hari

ternyata rasa kangen itu masih, sayang itu masih, kerinduan ingin bertemu itu masih

tapi berusaha meredamnya. malam ini sebelum tidur, aku bicara pada hatiku, ingin menyampaikan pesan padamu tapi tak kulakukan;

“karena aku mencintaimu, aku melepasmu.

tatapan peri kecil itu, senyumnya yang tulus mampu meluluhkan egoku

ku titipkan besar  cintaku padamu untuknya

setiap kau memeluknya, maka pelukan hangatku untukmu menjadi miliknya

setiap kau menciumnya, maka ciuman sayangku untukmu menjadi miliknya

biar dia, peri kecil itu, ketika bersedih,  mampu mengembalikanya menjadi tersenyun dengan pelukan dan ciumanmu

karena senyumnya adalah kebahagianmu”

“hai peri kecil, mungkin suatu hari kamu akan membaca ini,

titip papamu yaaa sayang, selalu tersenyum, karena senyummu membuat papamu bahagia”

 

Rana, karena aku mencintaimu, cukup itu saja!

untuk semua waktu yang pernah kita punya dan lewati

untuk semua pelukan hangat yang pernah kita rasakan

untuk semua kecupan dan ciuman sayang yang kita lalukan

untuk semua airmata yang jatuh

cintamu mengajarkanku berkorban

cintamu mengajarkanku melepaskan

cintamu begitu hebat, membuat aku tidak menangis hari ini, 07 September 2014

sayangku masih untukmu, namun harus ku paksakan habis dengan akhir kisah ini dan tanda titik (.)

Esok akan datang Rana, tidak ada lagi kita, hanya Aku dan Kamu, titik (.)

Terima kasih, titik (.)

 

Barisan Puisi Ini Adalah Yang Aku Punya

Mungkin Akan Kau Lupakan

Atau Untuk Dikenang

Tulisan dariku ini, mencoba mengabadikan

mungkin akan kau lupakan, atau untuk dikenang

doakanlah, aku malam ini, sebelum kau mengarungi malam

[untuk dikenang – jikustik]

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s