Matanya mulai terpejam, ketika ia mencoba merangkai huruf demi huruf, menjadi sebuah kata, menyusunnya menjadi sebuah kalimat dan kemudian sebuah cerita. Entah apa yang kini ada dalam hatinya, tak pernah sampai terdengar terucap dari mulutnya. Hanya isyarat matanya yang selalu ingin berbagi dan menceritakan sesuatu, tapi tak satupun bisa menangkap maksud hatinya. Hanya gerak lembut dan cekatan dari jarinya yang bisa membuat ia bercerita. Bercerita bagi dirinya sendiri, karena aku tak pernah bisa mengerti apa yang ia tulis. Ia yang telah menciptakan bahasanya sendiri, dan untuknya sendiri.
Seperti malam ini, aku tau ini adalah waktunya ketika jari-jarinya kembari menari. sunyi malam adalah nada yang akan selalu mengiri setiap gerakannya. tapi entahlah, apakah sunyi malam juga menjadi sebuah lagu untuk hatinya. Yang aku tau pasti dalam hatinya sudah banyak nyanyian lirik-lirik, entah itu bahagia ataupun sebuah kesedihan.
Pagi ini hujan turun membasahi tanah, ketika aku melihat senyuman indahnya. Hujan yang mampu membuat ia tersenyum, seperti kesepian yang mampu membuat jari-jarinya menari elok. Penyebabnya mungkin titik-titik hujan itu telah menjadikan ketukan-ketukan, kesunyian dan lirik-lirik dalam hatinya bersinergi membentuk sebuah lagu yang indah.
Ini hari yang kesekian, aku hanya bisa memandang dan menemaninya melihat hujan. Sungguh senyumannya begitu indah, ada yang membuat semangatnya kembali. Ada yang menggerakan simpul-simpul memori dari sarafnya, untuk mengambil ingatan-ingatan bahagianya. Entah bagian memori pada usia berapa yang diambilnya, gambaran film seperti apa yang pernah ia alami. Ia selalu menikmati dunianya sendiri.
Panggil saja dia Randra, Pria ini terlihat begitu kurus. Dalam matanya tak bisa kutemukan definisi apapun, kosong, hambar, tapi tajam. Mata itu yang dulu selalu membuatku merasa selalu ada, merasa aman berada disampingnya. Aku selalu bisa menemukan kelembutan, kesetiaan dan keyankinan. mata itu yang akan selalu menatapku, karena dari situ aku menemukan jawaban cinta yang sangat tulus dari randra. Bibirnya yang tipis dan merah itu dulu akan selalu tertarik lebar, membentuk sebuah senyuman. Kini telah menjadi gelap, seakan tak akan pernah lagi tersenyum. Mungkin tak khan pernah lagi sampai pada ubun-ubun kepalaku, biasanya tepat setelah ia mengucapkan “sayang, cinta, love”. Tangan yang dulu kekar, hangat mendekap, kinipun telah lunglai. Dia bukan Randraku yang dulu, semua telah banyak yang hilang. Tapi aku masih berharap hatinya yang telah kumiliki masih akan tetap menjadi milikku.
Aku masih duduk disampingnya. Dari balik jendela, masih menemaninya meilhat hujan.
„Dra, hujan begitu indah buat dirimu ?“
Aku memandangnya lekat, berharap dia kan menoleh kepadaku, dengan tatapan matanya yang dulu.
Tapi dia hanya akan tersenyum, karena hanya hujan yang bisa membuatnya tersenyum.
Dulu aku adalah hujan itu, aku yang akan bisa membuat dia terus memandang dan merekahkan senyumnya. Dia akan memandangku dengan matanya yang indah, tersenyum padaku dengan senyuman paling manis. Lama, selama aku ada didekatnya. aku tau arti itu, dari mata dan senyumannya, dia hanya ingin bilang „jangan pernah tinggalkan aku“. …..
siapakah randra? apa yang terjadi padanya ?
dan ada apa dengan aku ?
to be continued…