suatu ketika waktu milik-Nya telah memanggil
menggerakan raga untuk bersuci
menggerakan hati yang rindu untuk menemui-Nya
menyerahkan jiwa hanya kepada-Nya
sore itu langit terlihat begitu cerah
disuatu sudut ruangan, dalam sebuah gedung tingggi
diantara padatnya penduduk penduduk ibukota
diantara orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya
aku sedang bersiap diri menghadap-Nya
melepaskan aktivitas duniawi, dan membersihkan diri
bersiap mengambil ruang yang cukup untuk gerakku
padahal janji pahala-Nya berlipat jika dilaksanakan bersama
bukan suatu halangan dengan melaksanakannya sendiri
senja hari ini berbeda
kehendak-Nya telah memberikan kesempatan pahala yang berlipat
kekuatan-Nya menggerakkan hati diwaktu yang sama
kekuasaan-Nya telah menjadikan seorang imam untuk asharku hari ini
setiap gerakan hendaknya adalah hanya untuk-Nya
setiap lafadz hendaknya adalah hanya pada-Nya
namun aku hamba yang selalu lemah
hamba yang tiada kekuatan apapun atas seijin-Nya
hamba yang tiada kemampuan apapun atas petunjuk-Nya
hamba yang tiada kelebihan apapun atas pemberian-Nya
Asharku senja ini tak sempurna
kesejukan, ketenangan dalam kegelisahan
ada wajah yang teduh, dibalik basuhan air wudhu
ada suara yang sejuk, dibalik lafadz takbir
ketenangan dan kedamaian yang menggetarkan hati
kegelisahan atas sebuah ketidakpastian
hanya pada-Nya aku berlindung dan memohon ampun
dari getaran hati pada setiap gerakan sujudku senja ini
dari getaran hati pada suara takbir imam yang menuntunku senja ini
dari getaran hati yg mencuri perhatianku pada-Nya
Sesungguhnya segala urusan adalah takdir-Nya
biarlah kasih sayang-Nya yang akan menentukan kemana getaran hati ini akan bergema

